Keterbatasan lahan yang kita miliki, tidak perlu menyurutkan niat kita untuk mulai menghijaukan sekitar. Kini, di kota-kota besar orang-orang yang peduli pada alam sudah banyak yang mengembangkan urban farming. Dengan perkembangan teknologi pangan, kini berkebun tidak harus selalu menggunakan media tanah. Ada banyak pilihan yang bisa kita ambil. Selain dengan cara organik, kita juga bisa berkebun dengan cara hidroponik ataupun aquaponik. Lahan yang sempit pun bisa kita siasati dengan teknik vertical garden.

            Dengan vertical garden apartemen, kantor, atau rumah tinggal yang tidak memiliki halaman memadai masih bisa memiliki lingkungan yang segar, nyaman, dan bersih. Ada banyak keuntungan yang bisa diperoleh dari taman berbentuk memanjang ke atas. Diantaranya yaitu digunakan sebagai tirai hijau untuk memberi privasi pada penghuni atau peneduh. Selain itu, vertical garden juga bermanfaat untuk menahan panas dari luar, mengurangi tingkat kebisingan suara, mengurangi polusi udara, menangkap partikel-partikel kotoran, mengurangi efek tampias hujan, dan meningkatkan suplai oksigen.

            Dalam hal ini, kita juga bisa memanfaatkan berbagai barang bekas sebagai tempat bertanam sehingga mendukung gerakan zero waste. Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Atau bisa juga menggunakan produk vertical garden pabrikan dengan penyiraman otomatis.

            Berikut ini beberapa inspirasi vertical garden.

 
 
Picture
Gb.1 Pohon kayuputih di depan rumah sedang berbunga penuh. Selain sebagai penahan angin dan debu juga dapat dimanfaatkan sebagai herba, serta tentu saja memperindah alam sekitar rumah. Merah yang meriah!
            Kecintaan pada alam yang hijau mengalir begitu saja di jiwaku. Aku tak menyadari bahwa hal-hal kecil seperti yang aku lakukan itu adalah sesuatu hal yang berharga. Di desaku, pepohonan masih tegak berdiri, tanah masih memanjakan para petani dengan hara yang kaya, udara masih sangat sejuk dan murni untuk mengisi rongga dan nadi kehidupan. Lahan hijau masih membentang luas. Sepanjang mata memandang, apa lagi yang akan terlihat selain kehijauan alam raya?

            Aku tak mengerti bahwa nun jauh di sana ada alam yang penuh petaka karena ulah manusia. Aku tak tahu bahwa nun jauh di sana ada alam yang tak lagi sejuk di pandang mata, ada alam yang tak lagi ramah pada penghuninya. Aku tak menyadari bahwa di belahan dunia yang lain ada tempat yang tanahnya dipenuhi racun-racun limbah, udaranya panas dan tak lagi menyehatkan badan, lahannya dipenuhi tembok dan beton hingga tiada lagi tempat untuk pohon-pohon mengabdikan diri.

            Kini aku bisa berkaca pada belahan dunia yang seperti itu. Sungguh, hingga kini aku masih tetap seperti dulu, mencintai alam yang ramah. Namun, bagaimanakah alam akan ramah bila manusia sudah tak ramah padanya? Alam sangat tahu membalas budi. Di desaku itu, kehidupan berjalan apa adanya dalam keteraturan, keindahan, dan kenyamanan. Alam membalas budi baik manusia dengan jauh lebih baik. Alam pun bisa membalas jauh lebih kasar dan kejam bila kita berlaku kasar dan kejam terhadapnya.

            Sekarang ini, aku sudah tak tinggal di desa kelahiranku itu. Aku tinggal jauh dari alam yang asri itu. Sebenarnya kini tempat tinggalku masih di sebuah kawasan desa, namun desa yang sudah tak semurni desaku dulu. Desa yang sebagian wilayahnya sudah mulai terus dikeruk  mutiaranya. Di lahan halaman rumah yang tidak seberapa, aku mulai bertanam atas dasar kesadaranku menyelamatkan alam. Walau hanya hal kecil, walau hanya di halaman rumah, tak ada salahnya kita beramah-tamah pada alam ini. Ingat, alam itu sangat tahu membalas budi. Hal besar sesungguhnya dimulai dari hal kecil. Selain itu, bukankah hal kecil akan menjadi sesuatu yang besar jika kita melakukannya bersama-sama?

             Oleh karena itu, mari kita sama-sama menjaga sikap kita pada sekitar. Sisakan ruang terbuka hijau di rumah kita. Biarkan hujan membasahi bumi dan meresap tanpa terhalangi tembok, aspal, dan beton. Sesungguhnya itu adalah budi baik kita pada alam. Alam pasti membalas apa yang kita berikan padanya!


 
 
Aku lahir, tumbuh, dan berkembang dalam alam dan suasana pedasaan yang kental. Alam yang murni dan apa adanya. Alam yang penuh keramahtamahan. Alam yang memberikan apa yang aku butuhkan: udara yang segar, kicau burung liar, angin semilir, air yang mengalir, bunga yang rekah, umbi dan buah yang ranum, mentari yang ramah, bulan yang indah, bintang cemerlang, langit yang biru, awan yang bersih, hujan yang beraroma surgawi, dan segala kenikmatan hidup yang tak mungkin bisa disebutkan satu persatu. Mungkin karena itulah sedari kecil aku sudah sangat mencintai alam yang hijau.

Dulu itu, halamanku penuh dengan tanaman bunga hanya karena memang aku suka. Tak ada alasan lain. Semata-mata hanya karena aku suka bila saat kubuka mataku di pagi buta adalah aroma bunga-bunga yang kupuja itu yang menyapaku pertama. Semata-mata hanya karena aku cinta bila saat kubuka jendela adalah daun-daun hijau yang basah dengan embun itu yang tersenyum pada jiwaku pertama. Semata-mata karena aku bahagia, ya aku bahagia menyaksikan dan menemani tanamanku tumbuh bersamaku. Walau belum diisi dengan kesadaran yang nyata, walau hanya sebatas suka, aku sudah mencintai hijau sejak lama.

Berbeda denganku, ayahku memilih menanam berbagai pohon buah dan sayuran di sekitar halaman. Beliau tentu saja sudah lebih serius, luas, dan nyata dalam mencintai alam yang hijau. Ya, rupanya darah kecintaanku ini mengalir darinya. Kadang, beliau sedikit protes bila tanaman bungaku sudah agak mengganggu karena memenuhi teras dan halaman. Bukan, bukannya Ayah tak suka dengan tanamanku, namun katanya lebih baik menanam apa yang bisa dimakan.

Ah, sungguh saat itu aku tak berminat menanam buah-buahan atau sayuran. Saat itu aku pikir, apa menariknya bertanam sayur dan buah di rumah? Berbeda dengan tanaman bunga, bunga membuat rumah menjadi lebih nyaman dan indah, pikirku. Kini aku baru menyadarinya, mengapa dahulu itu aku tidak tertarik dengan tanaman sayur dan buah. Karena aku sama sekali tidak merasa membutuhkannya. Ya, karena sayur dan buah sudah tersedia. Karena ayahku menyediakannya, menanamnya.

Kini setelah aku dewasa, aku berbalik seperti ayahku itu, aku lebih memilih bertanam sayur dan buah. Bukan berarti aku tak suka lagi pada bunga. Bagiku bunga tetap sesuatu yang indah dan membahagiakan, namun aku tak lagi ‘kalap’ pada berbagai jenis bunga seperti dulu. Semua ini karena perubahan apa yang aku butuhkan. Kini aku merasa lebih butuh pada tanaman sayur dan buah karena kini aku yang harus menyediakan semua itu. Tak seperti dulu, saat tinggal bersama orangtua semua itu sudah tersedia. Ya, akhirnya segala sesuatu berjalan dilatarbelakangi oleh kesadaran diri atas apa yang kita butuhkan.

Apapun tanamannya: bunga-bungaan, sayuran, ataupun buah-buahan tidak menjadi masalah. Pada prinsipnya mari kita hijaukan lingkungan kita, demi masa depan yang lebih baik! Alam ini bukanlah warisan dari nenek moyang kita, bukan pula hak milik kita. Alam ini adalah titipan dari anak cucu kita. Mari hijaukan sekitar kita! Semua itu bisa kita mulai dari diri dan rumah kita! Let’s go green!

 

    Author

    Saya adalah seorang pecinta hijau sejak kecil. Pengagum kesederhanaan bumi dalam ketangguhan, pengorbanan, dan balas budinya.

    Jika kita bisa hidup selaras dengan alam, sungguh alam sangat tahu cara membalas budi. Begitu pula sebaliknya!

    Archives

    August 2012

    Categories

    All
    Go Green!